Seorang sahabat ingin konsultasi dengan saya via japri dan baru hari ini dia bisa menuliskan pertanyaan yang ingin dia obrolkan dengan saya, kenapa saya katakan obrolkan, ya karena saya sebetulnya bukan konsultan profesional, yaa.. sekedar senang mengamati, suka membaca dan berbagi pengalaman saja maka saya katakan ngobrol bukan konsultasi, hehehee.
Sahabat itu jatuh hati dengan teman sekantornya dan beliau menyadari itu timbul semenjak istrinya mulai lebih memberikan perhatian ke pada anak-anak mereka dan mungkin hanya sedikit membagi perhatian ke si sahabat ini. Dan kejadian ini umum artinya, hampir semua pasangan rumah tangga pernah mengalami masa-masa di mana sang istri lebih memperhatikan dan merawat anak-anaknya dari pada melayani dan meladeni si suami.
Bagi para suami yang cukup bisa memaklumi ini dan komunikasi di antara keduanya itu terjalin baik, masalah seperti ini biasanya bisa diatasi dengan adegan ranjang yang asik dan mesra, sambil sharing, ngobrol dan seterusnya hehehehe… hanya memang butuh kedewasaan, kematangan dan selera humor yang cukup baik untuk bisa menjaga agar adegan ranjang yang mesra itu tidak malah berkembang menjadi pertengkaran kecil yang lalu membuat semuanya jadi bubhar dan basi, gitu loh!!! hehehehe.
Yang lebih banyak terjadi dalam kondisi seperti ini, para suami lalu memanfaatkan moment itu untuk menyibukkan diri dengan hobi baru, seperti saya dulu hobi main game, role playing game, ato hobi fotografi, atau hobi golf, dll dll, atau bahkan banyak juga yang lalu hobi memelihara lebih dari satu cem-ceman ato wil ato TTM gitu loh. Walaupun, kalau di balik bisa saja aktivitas-aktivitas hobi itu -selain punya cem-ceman, TTM , dll tentunya- itu tetap dilaksanakan dan hubungan dengan istri-istri tetap hangat dan baik dan tentu itu .
Sahabat itu seperti halnya para pria kebanyakan, masih mempertimbangkan dan menyayangi anak-anaknya, jadi dalam pemikirannya, pilihan untuk kembali ke istri itu masih ada dan dari obrolan si sahabat itu, mereka telah ngobrol bertiga-dia si cewek dan istri- dan sepertinya upaya untuk kembali ke istri itu telah dilakukan, hanya memang karena daya tarik si cewek itu lebih kuat, maka sahabat ini tetap mencoba membuka jalur komunikasi dengannya, dan lalu kisahnya kembali bergulir.
Kondisi mereka yang satu kantor, tentu menjadi salah satu faktor yang sangat memudahkan dalam berkomunikasi dan dalam soal cinta, komunikasi pasti merupakan faktor yang sangat menentukan, baik-buruknya komunikasi akan sangat menentukan perkembangan cinta di antara dua insan, dan di jaman yang sangat canggih ini alat komunikasi tentu sudah sangat luas dan mudah di dapat, jadi tentu masalahnya agak lebih sulit lagi hehehe.
Salah seorang guru saya pernah mengatakan bahwa dalam suatu hubungan antara pria-wanita, kita sebagai pria punya sesuatu yang membuat kita tertarik dengan wanita lain, entah itu parfumnya, cara berpakaiannya, suaranya dll atau imajinasi kita, maka untuk bisa mengendalikan hubungan dengan lawan jenis, mengetahui apa yang menjadi kelemahan kita atau menjadikan kita tertarik dengan wanita itu mestilah kita ketahui agar kita bisa menterapi diri kita sendiri dengan pasangan resmi kita. Kecuali memang anda itu seorang maestro atau seorang playboy yang mau meluangkan waktu untuk mengembara dari satu wanita-kewanita lain hehehehe.
Sampai di sini sudah ada dua jawaban untuk sahabat itu, pertama memang perlu dipikirkan untuk pindah kerja, bukan sekedar resign atau keluar. Carilah pekerjaan lain terlebih dahulu sebelum meninggalkan kantor anda atau kalau memang anda punya prospek karir yang baik ditempat itu, cobalah untuk mengarahkan hubungan anda dari cinta ke sayang sebagai seorang yang lebih dewasa, bukan cinta seksual-walaupun ini tidak mudah terlebih lagi saya tidak tahu apa yang sudah anda lakukan dan kontak emosional anda dengan dia sudah sejauh mana, hehehehehe.
Yang kedua, cobalah anda terbuka dengan istri dan katakan kenapa anda jadi tertarik untuk pindah ke lain hati. Anda mesti melakukan terapi pemutusan hubungan dengan wanita lain itu bersama-sama dengan istri anda, katakanlah ini semacam SOS tapi bukan save our soul tapi safe our ship hehehee selamatkanlah bahtera rumah tangga anda.
Saya sendiri bukannya tidak pernah tertarik dengan wanita lain dan bukannya tidak pernah juga merasa diterlantarkan oleh istri saya, pernah, bahkan cukup lama dan ada masanya di mana lalu saya membicarakan hal ini dengan istri saya dan lalu kita mengadakan perbaikan-perbaikan bersama. Istri saya pun tahu bahwa saya punya fans-fans wanita dalam kehidupan saya dan kami bersama-sama mencoba, tepatnya dia mengijinkan saya untuk memperbaiki hubungan kami.
Satu hal yang membuat saya termotivasi untuk tetap menjaga pernikahan kami selain dari adanya anak-anak, saya mencoba ingat dengan janji dan komitment saya ketika kami mau menikah dan saya tetap berniat untuk menemani dia sampai jadi nenek dan kakek, lalu saya punya sifat pemalas yang susah diobati dan ketika saya membayangkan proses perceraian, dan lalu proses nikah yang mesti akan dilalui lagi kalau saya menjalin hubungan dengan wanita lain, keinginan untuk melihat dan memindahkan hati ini ke wanita lain akan berkurang. Selain itu kemalasan saya yang lain adalah saya sudah merasa terlalu tua untuk mulai beradaptasi dengan wanita lain yang akan saya hadapi setiap pagi, setiap hari dari sisa hidup saya yang entah berapa lama lagi, dan itu yang tidak mudah bagi saya untuk mengubahnya.
Lalu apa yang kami - saya dan istri lakukan- untuk terapi saya hehehe, ya komunikasi di antara kami berdua kami coba perbaiki dan si yayank itu mencoba mengalokasikan waktu yang memadai untuk saya, memperbaiki penampilan dan performancenya hehehehee, selain itu saya juga ikut mengamati perkembangan anak-anak kami, lebih intens dan saya menyibukkan diri dengan hobi-hobi saya untuk hobi, bukan sekedar pelarian.
Nah, … itu yang bisa saya share semoga berguna, nanti kita ngobrol lagi. Oh ya, sekedar tambahan, kalau saya mengatakan “kita para pria sering kali agak ke kanak-kanakan, termasuk saya hehehehe”, yang saya maksudkan adalah kita seringkali melihat permasalahan itu dari satu sisi saja, bahwa kita butuh ini-butuh itu dan seterusnya, karena kita seringkali lupa bahwa ketika kita menikah punya anak, kita semestinya melihat permasalahan itu dari sisi kita dan sisi istri dan anak-anak kita agar lalu kita bisa lebih sabar dan menahan diri, lebih bisa membuka diri dan membicarakan apa yang kita inginkan dan butuhkan secara terbuka dan sebaliknya mendengarkan juga apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pasangan hidup kita.
Seorang sahabat lama saya di Bali, dalam usianya yang limapuluhan pada suatu hari mengakui ke saya bahwa belum lama dia baru menyadari fungsi dan kewajiban dia sebagai suami dalam suatu pernikahan, …. sudahkah kita menyadarinya juga??? hehehee semoga bisa menjadi renungan di akhir pekan… bukan pe er loh hahahaa.
Sori kalau agak kacau runutannya, tapi toh kita bisa ngobrol lagi… :))
100807
http://groups.yahoo.com/group/irwan_sutjipto/message/449